Senin, 28 November 2011

5. like father like son


5. LIKE FATHER …LIKE SON (1)
SEBUAH RENUNGAN
a.       “Siapa yang menjaminmu hidup sampai setelah waktu zuhur?.” Ucapan seorang pemuda kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia tersentak, terlebih saat itu, ia tengah merebahkan diri beristirahat usai menguburkan khalifah Sulaiman bin Malik, tapi baru saja ia merebahkan badannya, seorang pemuda menghampirinya, “apa yang ingin anda lakukan wahai Amirul Mukminin?”, “biarkan aku tidur sejenak. Aku sangat lelah dan hampir tidak punya kekuatan”, jawabnya. Tapi sang pemuda ini tampak tidak puas, ia bertanya lagi, “apakah anda akan tidur sebelum mengambalikan barang yang diambil secara paksa kepada pemiliknya?.” Umar bin Abdul Aziz menjawab, “jika waktu zuhur tiba, saya bersama yang lain akan mengembalikan barang tersebut ke pemiliknya.”
b.      Seorang lelaki datang menghadap Umar bin Khathab ra, ia melaporkan tentang kedurhakaan anaknya. Khalifah lantas memanggil anak tersebut dan mengingatkan terhadap bahaya durhaka kepada orang tua. Saat ditanya sebab kedurhakaannya, anak tersebut mengatakan, “wahai Amirul Mukminin, tidakkah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh orang tuanya?” “ya” jawab khalifah. “apakah itu” Tanya anak itu. Khalifah menjawab, “ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, member nama yang baik dan mengajarinya al Quran.” Lantas sang anak menjawab, “wahai Amirul Mukminin. Tidak satupun dari tiga perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku Majusi, namaku Ja’lan, dan aku tidak pernah diajarkan membaca al Quran.” Umar ra lalu menoleh kepada ayah anak itu dan mengatakan, “anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda berlaku tidak baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada anda.”
c.       AYAH” apa yang pertama kali terbayang dalam pikiran kita saat kata itu teruntai dan meluncur pertama kali dari mulut kecil seorang bocah yang menjadi anak kita?....memberi gairah kehidupan yang terus mendorong langkah kita untuk melanjutkan perjalanan berat ini…mengajari kita akan makna pertanggungjawaban yang paling hakiki…kata yang mempercepat langkah kita untuk tergesa-gesa sampai di rumah…kata yang mendidik kita makna pengorbanan, perhatian dan kepeduliaan tanpa batas…saat kita enggan dengan menjadi kata itu, maka kata itupun enggan menjadi kita..Omar El Syarif seorang actor dunia yang kini bermukim di Perancis berujar perlahan; “Ambillah segenap kekayaan dan popularitasku, tapi berikan aku seorang anak, biarkan tangisnya memecah sunyi dalam jiwaku. Aku ingin jadi ayah!” (inilah derita orang-orang modern)
ANAK DALAM AL QURAN
Anak adalah amanah dari Allah,Swt. Kepada para orang tua yang diberi kepercayaan untuk merawatnya. Baik buruk anak akan membawa efek kepada orang tuanya baik itu di dunia mapun di akhirat. Di dalam Al Quran terdapat empat kriteria anak:
Pertama : Anak Shaleh, untuk anak  shaleh ini Al Quran menyebutnya dengan istilah “Qurrata ‘Ayun” atau penyenang hati, yaitu anak yang taat kepada Allah, berbakti kepada kedua orang tuanya, serta hidupnya berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.


Kedua : Anak Perhiasan ( Ziinah) yaitu anak yang berhasil dalam meniti dunianya saja, anak ini menjadi kebanggan orang tuanya karena ia telah berhasil dalam meniti karirnya, apakah ia sebagai Birokrat, Busenismen, atau politikus yang handal, kemudian ia mempunyai uang yang banyak, mobil yang keren dan rumah yang bagus, sehingga akan menjadi kebanggaan orang tuanya dan menceritakan kepada semua orang yang dijumpainya bahwa anaknya telah berhasil, namun sayang ia bukan sebagai pengamal ajaran agamanya secara baik, ia belum bisa baca Al Quran, kadang shalat kadang tidak, bahkan sering melaksanakan ma’shiyat. Firman Allah:
Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan’ Q.s. Al Kahfi,46.
Ketiga : Anak Fitnah, yaitu anak yang hanya merepotkan orang tuanya saja, ia hanya makan, tidur dan bermain, tidak bisa mencari uang, ia tidak beribadah, tidak aktif di Masjid atau di pengajian. Dalam hal ini Allah berfirman:“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya disisi Allah  ada pahala yang besar”. Q.s. Al Anfal, 28.
Keempat: Anak sebagai musuh (‘Aduwwun); firman Allah: “Wahai orang orang yang beriman ! sesungguhnya diantara istri istrimu dan anak anakmu ada yang menjadi musuh bagimu , maka berhati hatilah kamu terhadap mereka ; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni mereka , maka sesungguhnya Allah Maha pengampun,Maha Penyayang”(qs. At Taghabun:4)
TUGAS DAN KEWAJIBAN SEORANG AYAH TERHADAP ANAK
1.        Menyadari Dan Memahami Dengan Baik Tanggungjawab Besarnya Terhadap Anak; sebagaimana firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.66:6)
Sabda Rasulullah saw;
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai tanggungjawabnya terhadap orang yang dipimpinnya….Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan dimintai tanggungjawab dari orang-orang yang dipimpinnya….” (Muttafaqun Alaih)

Diantara Tanggungjawab Seorang Ayah Adalah:
a.       Memilihkan calon ibu yang baik, Sabda Nabi saw, “Nikahilah wanita-wanita yang berada dalam lingkungan yang baik. Karena pembuluh darah itu laksana cahaya”. (HR. Ibnu ‘Adi)
b.      Bergembira saat kelahiran anak baik laki-laki atau perempuan; Allah swt berfirman:


“Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak (Ismail) yang Amat sabar.” (QS.37:101)
“Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia” (QS.19:7)
c.       Menasabkan anak kepada orang tuanya; firman Allah swt:
“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 33:5)
Sabda Nabi saw: “Barangsiapa tidak mengakui anaknya karena hendak mempermalukannya di dunia, Allah swt akan mempermalukannya pada hari kiamat dihadapan banyak saksi mata.” (HR. Ahmad dan Thabrani dari Ibnu Umar)
d.      Mendoakannya dengan doa perlindungan; Firman Allah swt:
“Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk (إني أعيذها بك وذريتهامن الشيطان الرجيم) (QS. 3:36)
Doa nabi Ibrahim untuk anak dan keturunannya: (QS.14:35, 40-41)
“35. dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”
“40. Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku. 41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".
“dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. (QS. 37:99-100)
Doa nabi Zakariya as:
“38. di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". 39 kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang)


dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh". (QS.3:38-39)
“89. dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik. 90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.” (QS.21:89-90)
e.       Mengumandangkan adzan;
Ini merupakan upaya merekamkan kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah, Muhammadarrasulullah sejak dini. Sebab otak bayi laksana pita kaset yang masih kosong, ia akan terisi oleh suara yang pertama kali tertangkap olehnya. Semoga hal itu menjadi arahan yang lurus bagi sang bayi, yang akan mengendalikan arah hidupnya.
Dari Abu Rafi’, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw adzan seperti adzan shalat di telinga Al hasan ketika dilahirkan oleh Fathimah.” (HR. Ahmad, VI/9,391,392. Abu Daud no. 5105. At Tirmidzi I/286)
Syaikh al Albany –ahli hadits abad ini- berkata tentang status hadits ini, “Hasan, Insya Allah!” (Irwa’ al Ghalil, IV/400)
Sedangkan hadits tentang iqamah, adalah sebagai berikut:
"Siapa yang kelahiran anak lalu ia mengadzankannya pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri maka Ummu Shibyan (jin yang suka mengganggu anak kecil, -pent) tidak akan membahayakannya".
(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (6/390) dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah (no. 623) dan Al-Haitsami membawakannya dalam Majma' Zawaid (4/59) dan ia berkata : Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan dalam sanadnya ada Marwan bin Salim Al-Ghifari , ia matruk (haditsnya ditinggalkan)".
Kami katakan hadits ini diriwayatkan Abu Ya'la dengan nomor (6780).
Berkata Muhaqqiq (peneliti hadits)nya : "Isnadnya rusak dan Yahya bin Al-Ala tertuduh memalsukan hadits". Nah, dari keterangan ini jelaslah bahwa hadits tentang qamat untuk bayi tidak bisa dijadikan landasan untuk mengamalkannya, karena cacatnya yang parah.
f.       Mentahnik; Disunahkan memberikan tahnik kepada bayi dengan menggunakan kurma atau sejenisnya, seperti madu dan lain-lain. Dengan cara mengunyah kurma hingga lembut dan halus, lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi tersebut. Ini merupakan upaya persiapan agar bayi nantinya mudah untuk merasakan manisnya air susu ibu. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits:
Dari Abu Musa al Asy’ary beliau berkata: Dilahirkan bagiku bayi laki-laki, kemudian aku bawa kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah menamakan bayi itu Ibrahim dan mentahniknya dengan korma serta mendoakan keberkatan atasnya, lalu menyerahkan kembali


kepadaku. Dan dia (Ibrahim) merupakan anak Abu Musa yang paling besar (sulung).” (HR. Bukhari no. 5467, Muslim III/1690, Ahmad IV/339)
g.      Mengaiqahkan, mencukur rambut dan memberi nama; Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw;
“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (hewan) pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur rambutnya dan diberikan nama.” (HR. Ahmad V/807 no. 12,17,18, Ibnu Majah no. 3165, At Tirmidzi IV/101, An NAsa’I V/166, dan Abu Daud III/106)
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (Sanadnya Hasan, HR. Abu Dawud (2843), Nasa’i (VII/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (IV/330), dan shahihkan oleh Imam al-Hakim (IV/238))
Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah bersabda: “Mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing.” (HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied)
Abu Buraidah berkata: “Kami pada zaman jahiliyah dahulu, jika lahir seorang bayi laki-laki bagi kami maka disembelih atasnya seekor kambing dan dilumurkan ke kepala bayi itu darah sembelihannya. Namun, ketika Islam datang, kami menyembelih kambing, mencukur rambut bayi, dan melumurinya dengan za’faran (sejenis minyak wangi).” (Riwayat Abu Daud III/107, Baihaqi IX/303, Hakim IV/238)
“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan  nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian, maka perindahlah nama-nama kalian.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dengan para perawi yang tsiqat)
h.      Mengkhitankan; Dari Abu Ayyub ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Empat hal termasuk sunnah-sunnah para Rasul: Khitan, memakai wewangian, siwak dan Menikah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad); dari Jabir ra, ia berkata: “Rasulullah saw meng’aqiqahi Hasan dan Husain serta mengkhitankan keduanya pada hari ketujuh.” (HR. Baihaqi)
(bersambung)

Minggu, 27 November 2011

4. muslim dengan isterinya


4. MUSLIM SEJATI ADALAH SUAMI IDAMAN

PESAN-PESAN AL QURAN DAN AL HADITS TENTANG BERKELUARGA
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum (30): 21)
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat.” (QS. 4: 21)
Dari Muhammad ibn Sa’id dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya diantara tanda kebahagiaan adalah isteri shalehah, rumah yang baik dan kendaraan yang baik. Dan diantara tanda penderitaan adalah isteri yang tidak shalehah, rumah yang tidak baik dan kendaraan yang tidak baik.” (HR. Thabrani)
Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik kepada keluargaku.” (HR. Al Baihaqi
CIRI-CIRI SUAMI YANG SHALEH
Kriteria suami yang shaleh adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab, diantaranya adalah:

1.   Memberikan Sambutan Hangat ketika pulang ke rumah baik dari tempat kerja atau dari bepergian karena suatu kepentingan.
“…Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. 24:61)
Rasulullah telah memberi petunjuk kepada para suami tantang bagaimana etika menemui istrinya, yaitu: Mengucapkan salam; Menunjukkan wajah yang berseri; Jabat tangan, karena bisa mengokohkan ikatan perasaan serta jalinan cinta.
Rasulullah saw berkata kepada Anas ra: “Wahai anakku, jika kamu masuk ke rumah menemui keluargamu, maka ucapkanlah salam, maka keberkahan akan dilimpahkan atasmu dan keluargamu.” (HR. Tirmidzi)
2. Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan,

sebagaimana firman Allah swt.,

"Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik." (Q.S. Al-Baqarah: 233)



"Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka." (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)
Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. (HR. Ad-Dailami)
Rasulullah Saw memberi uang belanja kepada keluarga beliau dari bagian rampasan perang yang menjadi hak beliau untuk kebutuhan rumah tangga selama setahun. Apabila ternyata ada kelebihannya maka uang itu diminta kembali dan dimasukkan ke dalam perbendaharaan negara (baitul maal). (HR. Ahmad)
2. Memberikan nafkah batin dengan baik
Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri.

"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki." (Q.S. Al Baqarah: 223)

“…. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. 4:19)

Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang menggauli isterinya, hendaklah ia melakukannya dengan penuh kesungguhan. Kemudian jika ia telah menuntaskan kebutuhannya (ejakulasi) sebelum isterinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (kemaluannya) sampai isterinya pun menuntaskan kebutuhannya (mendapatkan kepuasan).” (HR. Abdur Razzaq dan Abu Ya’la dari Anas)

Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seseorang menggauli isterinya seperti binatang bersenggama; tetapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan.” Lalu ada yang bertanya: “apakah perantaraan itu?”, Nabi saw bersabda: “ciuman dan ucapan yang romantic”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menggauli isterinya saat haid; atau pada dubur/anusnya; atau ia mendatangi dukun, lalu membenarkan ramalan-ramalannya; maka ia telah ingkar dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

3. Memberi Bimbingan pada Keluarga

Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.

"Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (Q.S. An-Nisaa 4: 34)

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (Q.S.Thaahaa: 132)

Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).

4. Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya
"...dan bergaullah dengan mereka secara baik..." (Q.S. An-Nisaa :19)

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu." (H.R. Tirmidzi)

"Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan memberi pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau memukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah." (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, dan yang lainnya)

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, sebab bila ada satu sikap yang ia benci darinya, boleh jadi ada sikap lain yang justru ia suka.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Beliau bersabda, “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina”.

Rasulullah SAW amat sayang terhadap istri-istrinya. Beliau amat marah bila mendengar seorang wanita dipukul suaminya. Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah SAW bahwa suaminya telah memukulnya. Maka beliau berdiri seraya menolak perlakuan tersebut dengan bersabda, “Salah seorang dari kamu memukul istrinya seperti memukul seorang budak, kemudian setelah itu memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”

Ketika Rasulullah SAW mengizinkan suami memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan setelah diberi nasihat dan ancaman secukupnya. Beliau didatangi 70 wanita dan mengadu bahwa mereka dipukuli suami. Rasulullah SAW berpidato seraya berkata, “Demi Allah, telah banyak wanita berdatangan kepada keluarga Muhammad untuk mengadukan suaminya yang sering memukulnya. Demi Allah, mereka yang suka memukul istri tidaklah aku dapatkan sebagai orang-orang yang terbaik di antara kamu sekalian.”
Aisyah ra pernah ditanya, “Apa yang dikerjakan Rasulullah di rumah?.” Dijawabnya: “seperti layaknya manusia biasa. Beliau menambal bajunya, memerah susu kambingnya, dan mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Rasulullah saw bersabda: “Allah merahmati suami yang bangun malam lalu shalat, kemudian membangunkan isterinya untuk shalat; kalau enggan bangun, ia teteskan air di wajahnya;…(demikian pula sebaliknya).” (HR. Ahmad)

Semoga Allah swt karuniakan kepada kita semua kesempatan menjadi suami yang memahami peran dan tanggungjawabnya, sehingga bisa menahkodai bahtera rumah tangga dan membawanya selamat di dunia dan di akhirat… amiin. Wallahu a’lam bishshawab.

3. muslim dengan orang tuanya


3.  SEORANG MUSLIM DENGAN ORANG TUA

Salah satu karakter unggulan seorang muslim sejati adalah berbakti dan berlaku baik kepada kedua orang tua, karena hal ini termasuk bagian dari persoalan yang sangat diperhatikan islam dan sangat ditegaskan dalam ajarannya. Seorang muslim yang tersadar dan yang melaksanakan perintah ajaran agamanya senantiasa menjadikan perilaku berbakti kepada kedua orang tua sebagai bagian dari akhlak mulianya, lebih-lebih bagi mereka yang berharap ketaatan dan keshalihan anak-anaknya; karena Rasulullah saw sabdakan, “jagalah dirimu terhadap isteri-isteri orang lain, niscaya isterimu akan terjaga; dan berbaktilah kepada kedua orang tuamu, niscaya anak-anakmu akan berbakti kepadamu..” (HR. al Hakim dari Abu Hurairah). Dalam hadist yang lain Nabi saw bersabda, “Berbuatlah sekehendakmu, bagaimana anda memperlakukan orang lain, seperti itulah anda akan diperlakukan.” (HR. Abdur Razzaq)
Begitu tinggi dan besar kedudukan birrul walidain dalam kehidupan seorang muslim, lalu bagaimana islam mengajarkan seorang muslim menjadi anak yang sejati sekaligus berharap menjadi orang tua yang sejati?