Minggu, 27 November 2011

4. muslim dengan isterinya


4. MUSLIM SEJATI ADALAH SUAMI IDAMAN

PESAN-PESAN AL QURAN DAN AL HADITS TENTANG BERKELUARGA
“Dan di antara tanda-tanda kekuasaan-Nya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikan-Nya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berfikir.” (QS. Ar Rum (30): 21)
“Bagaimana kamu akan mengambilnya kembali, Padahal sebagian kamu telah bergaul (bercampur) dengan yang lain sebagai suami-isteri. dan mereka (isteri-isterimu) telah mengambil dari kamu Perjanjian yang kuat.” (QS. 4: 21)
Dari Muhammad ibn Sa’id dari ayahnya, ia berkata: Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya diantara tanda kebahagiaan adalah isteri shalehah, rumah yang baik dan kendaraan yang baik. Dan diantara tanda penderitaan adalah isteri yang tidak shalehah, rumah yang tidak baik dan kendaraan yang tidak baik.” (HR. Thabrani)
Dari Aisyah ra berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sebaik-baik kalian adalah yang terbaik terhadap keluarganya, dan aku adalah orang yang terbaik kepada keluargaku.” (HR. Al Baihaqi
CIRI-CIRI SUAMI YANG SHALEH
Kriteria suami yang shaleh adalah suami yang selalu berusaha melaksanakan seluruh kewajiban secara baik dan bertanggung jawab, diantaranya adalah:

1.   Memberikan Sambutan Hangat ketika pulang ke rumah baik dari tempat kerja atau dari bepergian karena suatu kepentingan.
“…Maka apabila kamu memasuki (suatu rumah dari) rumah- rumah (ini) hendaklah kamu memberi salam kepada (penghuninya yang berarti memberi salam) kepada dirimu sendiri, salam yang ditetapkan dari sisi Allah, yang diberi berkat lagi baik. Demikianlah Allah menjelaskan ayat-ayatnya(Nya) bagimu, agar kamu memahaminya.” (QS. 24:61)
Rasulullah telah memberi petunjuk kepada para suami tantang bagaimana etika menemui istrinya, yaitu: Mengucapkan salam; Menunjukkan wajah yang berseri; Jabat tangan, karena bisa mengokohkan ikatan perasaan serta jalinan cinta.
Rasulullah saw berkata kepada Anas ra: “Wahai anakku, jika kamu masuk ke rumah menemui keluargamu, maka ucapkanlah salam, maka keberkahan akan dilimpahkan atasmu dan keluargamu.” (HR. Tirmidzi)
2. Memberikan nafkah lahir berupa sandang, pangan, dan papan sesuai kemampuan,

sebagaimana firman Allah swt.,

"Dan kewajiban ayah (suami) memberi makan dan pakaian kepada para ibu (isteri) dengan cara yang baik." (Q.S. Al-Baqarah: 233)



"Tempatkanlah mereka (para istri) di mana kamu bertempat tinggal menurut kemampuanmu dan janganlah kamu menyusahkan mereka untuk menyempitkan (hati) mereka." (Q.S. Ath-Thalaaq 65: 6)
Bukanlah dari golongan kami orang yang diperluas rezekinya oleh Allah lalu kikir dalam menafkahi keluarganya. (HR. Ad-Dailami)
Rasulullah Saw memberi uang belanja kepada keluarga beliau dari bagian rampasan perang yang menjadi hak beliau untuk kebutuhan rumah tangga selama setahun. Apabila ternyata ada kelebihannya maka uang itu diminta kembali dan dimasukkan ke dalam perbendaharaan negara (baitul maal). (HR. Ahmad)
2. Memberikan nafkah batin dengan baik
Hubungan biologis akan menjadi perekat pernikahan apabila dilakukan atas dasar saling membutuhkan dan dilakukan dengan cinta. Allah swt. menetapkan bahwa suami berkewajiban memenuhi nafkah batin isteri.

"Istri-istrimu adalah (seperti) tanah tempat kamu bercocok tanam, maka datangilah tanah tempat bercocok tanam itu bagaimana saja kamu kehendaki." (Q.S. Al Baqarah: 223)

“…. dan bergaullah dengan mereka secara patut. kemudian bila kamu tidak menyukai mereka, (maka bersabarlah) karena mungkin kamu tidak menyukai sesuatu, Padahal Allah menjadikan padanya kebaikan yang banyak.” (QS. 4:19)

Rasulullah saw bersabda: “Apabila seseorang menggauli isterinya, hendaklah ia melakukannya dengan penuh kesungguhan. Kemudian jika ia telah menuntaskan kebutuhannya (ejakulasi) sebelum isterinya mendapatkan kepuasan, maka janganlah ia buru-buru mencabut (kemaluannya) sampai isterinya pun menuntaskan kebutuhannya (mendapatkan kepuasan).” (HR. Abdur Razzaq dan Abu Ya’la dari Anas)

Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seseorang menggauli isterinya seperti binatang bersenggama; tetapi hendaklah ia dahului dengan perantaraan.” Lalu ada yang bertanya: “apakah perantaraan itu?”, Nabi saw bersabda: “ciuman dan ucapan yang romantic”. (HR. Bukhari dan Muslim)

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa menggauli isterinya saat haid; atau pada dubur/anusnya; atau ia mendatangi dukun, lalu membenarkan ramalan-ramalannya; maka ia telah ingkar dengan apa yang diturunkan kepada Muhammad saw.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

3. Memberi Bimbingan pada Keluarga

Suami mempunyai status sebagai pemimpin dalam keluarga, karenanya ia berkewajiban memberi nafkah lahir, batin, dan memberi bimbingan agama kepada istri dan anaknya.

"Kaum laki-laki (suami) itu adalah pemimpin bagi kaum wanita (istri), oleh karena Allah telah melebihkan sebagian mereka (suami) atas sebagian yang lain (istri), dan karena mereka (suami) telah menafkahkan sebagian dari harta mereka." (Q.S. An-Nisaa 4: 34)

"Dan perintahkanlah kepada keluargamu mendirikan shalat dan bersabarlah kamu dalam mengerjakannya." (Q.S.Thaahaa: 132)

Cukup berdosa orang yang menyia-nyiakan tanggungjawab keluarga. (HR. Abu Dawud).

4. Memperlakukan istri secara baik dan menjaga perasaannya
"...dan bergaullah dengan mereka secara baik..." (Q.S. An-Nisaa :19)

"Orang mukmin yang paling sempurna imannya ialah yang paling baik akhlaqnya, dan sebaik-baik kamu adalah yang paling baik kepada istrimu." (H.R. Tirmidzi)

"Hendaklah kamu (suami) memberi makan istri apabila engkau makan, dan memberi pakaian kepadanya bila engkau berpakaian, dan jangan engkau memukul mukanya, dan jangan engkau jelekkan dia, dan jangan engkau jauhi melainkan di dalam rumah." (H.R. Ahmad, Abu Daud, Nasa'i, dan yang lainnya)

Dari Abu Hurairah ra, bahwasanya Rasulullah saw bersabda: “Janganlah seorang mukmin membenci seorang mukminah, sebab bila ada satu sikap yang ia benci darinya, boleh jadi ada sikap lain yang justru ia suka.” (HR. Ahmad dan Muslim)

Beliau bersabda, “Tidaklah orang yang memuliakan wanita kecuali orang yang mulia dan tidaklah yang menghinakannya kecuali orang yang hina”.

Rasulullah SAW amat sayang terhadap istri-istrinya. Beliau amat marah bila mendengar seorang wanita dipukul suaminya. Pernah datang seorang wanita mengadu kepada Rasulullah SAW bahwa suaminya telah memukulnya. Maka beliau berdiri seraya menolak perlakuan tersebut dengan bersabda, “Salah seorang dari kamu memukul istrinya seperti memukul seorang budak, kemudian setelah itu memeluknya kembali, apakah dia tidak merasa malu?”

Ketika Rasulullah SAW mengizinkan suami memukul istri dengan pukulan yang tidak membahayakan, dan setelah diberi nasihat dan ancaman secukupnya. Beliau didatangi 70 wanita dan mengadu bahwa mereka dipukuli suami. Rasulullah SAW berpidato seraya berkata, “Demi Allah, telah banyak wanita berdatangan kepada keluarga Muhammad untuk mengadukan suaminya yang sering memukulnya. Demi Allah, mereka yang suka memukul istri tidaklah aku dapatkan sebagai orang-orang yang terbaik di antara kamu sekalian.”
Aisyah ra pernah ditanya, “Apa yang dikerjakan Rasulullah di rumah?.” Dijawabnya: “seperti layaknya manusia biasa. Beliau menambal bajunya, memerah susu kambingnya, dan mengerjakan sendiri pekerjaan rumahnya.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)

Rasulullah saw bersabda: “Allah merahmati suami yang bangun malam lalu shalat, kemudian membangunkan isterinya untuk shalat; kalau enggan bangun, ia teteskan air di wajahnya;…(demikian pula sebaliknya).” (HR. Ahmad)

Semoga Allah swt karuniakan kepada kita semua kesempatan menjadi suami yang memahami peran dan tanggungjawabnya, sehingga bisa menahkodai bahtera rumah tangga dan membawanya selamat di dunia dan di akhirat… amiin. Wallahu a’lam bishshawab.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar