BERKARYA DI DUNIA MERETAS JALAN KE SURGA
(menyelami pesan-pesan nabi saw agar amal dunia bernilai akhirat)
PEMBUKA PINTU
عَنْ حَسَّانِ بْنِ عَطِيَّةَ عَنْ أَبِي كَبْشَةَ السَّلُولِيِّ سَمِعْتُ عَبْدَ اللهِ بْنَ عَمْرٍو رَضِيَ اللهُ عَنْهُمَا يَقُولُ قَالَ رَسُولُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَرْبَعُونَ خَصْلَةً أَعْلَاهُنَّ مَنِيحَةُ الْعَنْزِ مَا مِنْ عَامِلٍ يَعْمَلُ بِخَصْلَةٍ مِنْهَا رَجَاءَ ثَوَابِهَا وَتَصْدِيقَ مَوْعُودِهَا إِلَّا أَدْخَلَهُ اللهُ بِهَا الْجَنَّةَ قَالَ حَسَّانُ فَعَدَدْنَا مَا دُونَ مَنِيحَةِ الْعَنْزِ مِنْ رَدِّ السَّلَامِ وَتَشْمِيتِ الْعَاطِسِ وَإِمَاطَةِ الْأَذَى عَنِ الطَّرِيقِ وَنَحْوِهِ فَمَا اسْتَطَعْنَا أَنْ نَبْلُغَ خَمْسَ عَشْرَةَ خَصْلَةً
“Rasulullah saw bersabda, “Ada empat puluh amalan, yang tertinggi adalah meminjamkan seekor kambing untuk diperah susunya. Tidak ada seorangpun yang melakukan satu amalan dari keempat puluh amalan ini (dengan mengharap pahalanya dan membenarkan apa yang dijanjikan Allah untuknya) melainkan Allah akan memasukkannya ke surga.” (HR. Bukhori dari Abdullah bin Amr bin ‘Ash ra)
PELAJARAN:
1. Bukti kasih sayang dan kemurahan Allah, dimana Allah membuka peluang seluas-luasnya untuk memasuki surga dengan karya-karya dunia yang sangat ringan, tidak menguras tenaga, harta, pikiran dan waktu
2. Karya-karya tersebut mengantarkan ke surga setelah pelakunya mengikrarkan kalimat tauhid dan mengharapkan pahala dari Allah serta membenarkan janji-janji Allah kepada siapapun yang melakukannya.
3. Perincian apa saja keempat puluh amalan tersebut kembali kepada ijtihad para ulama dalam mengumpulkan hadits-hadits nabi yang terkait
1. BERSEDEKAH SUSU
Dimulai dari bersedekah susu, karena amalan inilah yang disebutkan secara tegas dalam hadits diatas dan merupakan amalan ringan tertinggi yang mengantarkan pelakunya ke surga.
Bersedekah susu kepada yang membutuhkan termasuk amal social paling utama, karena ia adalah konsumsi yang sempurna. Rasulullah saw bersabda:
ثُمَّ قَالَ النَّبِيُّ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: " مَا أَعْلَمُ شَرَابًا يُجْزِئُ عَنِ الطَّعَامِ غَيْرَ اللَّبَنِ، فَمَنْ شَرِبَهُ مِنْكُمْ فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَزِدْنَا مِنْهُ، وَمَنْ طَعِمَ طَعَامًا فَلْيَقُلْ: اللهُمَّ بَارِكْ لَنَا فِيهِ وَأَطْعِمْنَا خَيْرًا مِنْهُ "
“aku tidak mengetahui minuman yang dapat menggantikan fungsi makanan selain air susu. Barangsiapa diantara kamu meminumnya, maka hendaknya ia berdoa, “Ya Allah berkahilah kami pada susu yang telah Engkau anugerahkan kepada kami dan tambahkanlah untuk kami dari susu ini.” Dan barangsiapa memakan suatu makanan, maka hendaknya ia berdoa, “ya Allah berkahilah kami pada apa yang telah Engkau anugerahkan kepada kami, dan tambahkanlah rezeki yang lebih baik dari makanan ini.” (HR. Ahmad)
Bersedekah susu dengan meminjamkan kambing kepada keluarga miskin berarti memberikan keleluasaan untuk memerah susu sesuai kebutuhan mereka, tanpa ada rasa rikuh dan malu kepada pemberi sedekah. Ini berbeda dengan sedekah makanan.
Bersedekah susu dengan meminjamkan seekor kambing kepada keluarga miskin berarti memberikan kepercayaan bahwa mereka tidak akan menjual, membawa lari atau menyembelih kambing yang dipinjamkan. Ini adalah salah satu bentuk baik sangka kepada sesama muslim.
Amal kebaikan semakin besar dan berat tantangan dan resiko yang dihadapi, maka semakin besar pula kebaikan dan keuntungan yang akan didapatkan.
Untuk kondisi sekarang ini, bersedekah susu bubuk atau susu kaleng dan sejenisnya, bisa dianalogikan dengan meminjamkan kambing untuk diperah air susunya, dengan syarat mencukupi dan mengenyangkan orang yang diberi sedekah.
Kesimpulan
Setelah mengetahui satu pesan nabi diatas, seyogyanya kita berusaha bersedekah susu kepada yang membutuhkannya, terutama kepada para balita dari keluarga miskin yang nyawa dan masa depannya terancam karena kekurangan gizi.
Jika bersedekah susu kepada fakir miskin mendapatkan imbalan yang demikian besar, padahal susu pada waktu itu termasuk komoditas yang murah dan melimpah, maka terlebih lagi bersedekah ketika harga susu amat tinggi dan keberadannya pun langka seperti sekarang ini. Tentunya dalam kondisi seperti, nilai balasannya jauh lebih besar.
Wallahu a’lam bishshawab
Tidak ada komentar:
Posting Komentar