5. LIKE FATHER …LIKE SON (1)
SEBUAH RENUNGAN
a. “Siapa yang menjaminmu hidup sampai setelah waktu zuhur?.” Ucapan seorang pemuda kepada khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ia tersentak, terlebih saat itu, ia tengah merebahkan diri beristirahat usai menguburkan khalifah Sulaiman bin Malik, tapi baru saja ia merebahkan badannya, seorang pemuda menghampirinya, “apa yang ingin anda lakukan wahai Amirul Mukminin?”, “biarkan aku tidur sejenak. Aku sangat lelah dan hampir tidak punya kekuatan”, jawabnya. Tapi sang pemuda ini tampak tidak puas, ia bertanya lagi, “apakah anda akan tidur sebelum mengambalikan barang yang diambil secara paksa kepada pemiliknya?.” Umar bin Abdul Aziz menjawab, “jika waktu zuhur tiba, saya bersama yang lain akan mengembalikan barang tersebut ke pemiliknya.”
b. Seorang lelaki datang menghadap Umar bin Khathab ra, ia melaporkan tentang kedurhakaan anaknya. Khalifah lantas memanggil anak tersebut dan mengingatkan terhadap bahaya durhaka kepada orang tua. Saat ditanya sebab kedurhakaannya, anak tersebut mengatakan, “wahai Amirul Mukminin, tidakkah seorang anak mempunyai hak yang harus ditunaikan oleh orang tuanya?” “ya” jawab khalifah. “apakah itu” Tanya anak itu. Khalifah menjawab, “ayah wajib memilihkan ibu yang baik buat anak-anaknya, member nama yang baik dan mengajarinya al Quran.” Lantas sang anak menjawab, “wahai Amirul Mukminin. Tidak satupun dari tiga perkara itu yang ditunaikan ayahku. Ibuku Majusi, namaku Ja’lan, dan aku tidak pernah diajarkan membaca al Quran.” Umar ra lalu menoleh kepada ayah anak itu dan mengatakan, “anda datang mengadukan kedurhakaan anakmu, ternyata anda telah mendurhakainya sebelum ia mendurhakaimu. Anda berlaku tidak baik terhadapnya sebelum ia berlaku tidak baik kepada anda.”
c. “AYAH” apa yang pertama kali terbayang dalam pikiran kita saat kata itu teruntai dan meluncur pertama kali dari mulut kecil seorang bocah yang menjadi anak kita?....memberi gairah kehidupan yang terus mendorong langkah kita untuk melanjutkan perjalanan berat ini…mengajari kita akan makna pertanggungjawaban yang paling hakiki…kata yang mempercepat langkah kita untuk tergesa-gesa sampai di rumah…kata yang mendidik kita makna pengorbanan, perhatian dan kepeduliaan tanpa batas…saat kita enggan dengan menjadi kata itu, maka kata itupun enggan menjadi kita..Omar El Syarif seorang actor dunia yang kini bermukim di Perancis berujar perlahan; “Ambillah segenap kekayaan dan popularitasku, tapi berikan aku seorang anak, biarkan tangisnya memecah sunyi dalam jiwaku. Aku ingin jadi ayah!” (inilah derita orang-orang modern)
ANAK DALAM AL QURAN
Anak adalah amanah dari Allah,Swt. Kepada para orang tua yang diberi kepercayaan untuk merawatnya. Baik buruk anak akan membawa efek kepada orang tuanya baik itu di dunia mapun di akhirat. Di dalam Al Quran terdapat empat kriteria anak:
Pertama : Anak Shaleh, untuk anak shaleh ini Al Quran menyebutnya dengan istilah “Qurrata ‘Ayun” atau penyenang hati, yaitu anak yang taat kepada Allah, berbakti kepada kedua orang tuanya, serta hidupnya berguna bagi agama, nusa dan bangsanya.
Kedua : Anak Perhiasan ( Ziinah) yaitu anak yang berhasil dalam meniti dunianya saja, anak ini menjadi kebanggan orang tuanya karena ia telah berhasil dalam meniti karirnya, apakah ia sebagai Birokrat, Busenismen, atau politikus yang handal, kemudian ia mempunyai uang yang banyak, mobil yang keren dan rumah yang bagus, sehingga akan menjadi kebanggaan orang tuanya dan menceritakan kepada semua orang yang dijumpainya bahwa anaknya telah berhasil, namun sayang ia bukan sebagai pengamal ajaran agamanya secara baik, ia belum bisa baca Al Quran, kadang shalat kadang tidak, bahkan sering melaksanakan ma’shiyat. Firman Allah:
“Harta dan anak adalah perhiasan kehidupan dunia tetapi amal kebajikan yang terus menerus adalah lebih baik pahalanya disisi Tuhanmu serta lebih baik untuk menjadi harapan’ Q.s. Al Kahfi,46.
Ketiga : Anak Fitnah, yaitu anak yang hanya merepotkan orang tuanya saja, ia hanya makan, tidur dan bermain, tidak bisa mencari uang, ia tidak beribadah, tidak aktif di Masjid atau di pengajian. Dalam hal ini Allah berfirman:“Dan ketahuilah bahwa hartamu dan anak anakmu itu hanyalah sebagai cobaan (fitnah) dan sesungguhnya disisi Allah ada pahala yang besar”. Q.s. Al Anfal, 28.
Keempat: Anak sebagai musuh (‘Aduwwun); firman Allah: “Wahai orang orang yang beriman ! sesungguhnya diantara istri istrimu dan anak anakmu ada yang menjadi musuh bagimu , maka berhati hatilah kamu terhadap mereka ; dan jika kamu maafkan dan kamu santuni serta ampuni mereka , maka sesungguhnya Allah Maha pengampun,Maha Penyayang”(qs. At Taghabun:4)
TUGAS DAN KEWAJIBAN SEORANG AYAH TERHADAP ANAK
1. Menyadari Dan Memahami Dengan Baik Tanggungjawab Besarnya Terhadap Anak; sebagaimana firman Allah swt:
“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.” (QS.66:6)
Sabda Rasulullah saw;
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap pemimpin akan dimintai tanggungjawabnya terhadap orang yang dipimpinnya….Suami adalah pemimpin bagi keluarganya, dan ia akan dimintai tanggungjawab dari orang-orang yang dipimpinnya….” (Muttafaqun Alaih)
Diantara Tanggungjawab Seorang Ayah Adalah:
a. Memilihkan calon ibu yang baik, Sabda Nabi saw, “Nikahilah wanita-wanita yang berada dalam lingkungan yang baik. Karena pembuluh darah itu laksana cahaya”. (HR. Ibnu ‘Adi)
b. Bergembira saat kelahiran anak baik laki-laki atau perempuan; Allah swt berfirman:
“Maka Kami beri Dia khabar gembira dengan seorang anak (Ismail) yang Amat sabar.” (QS.37:101)
“Hai Zakaria, Sesungguhnya Kami memberi kabar gembira kepadamu akan (beroleh) seorang anak yang namanya Yahya, yang sebelumnya Kami belum pernah menciptakan orang yang serupa dengan Dia” (QS.19:7)
c. Menasabkan anak kepada orang tuanya; firman Allah swt:
“Panggilah mereka (anak-anak angkat itu) dengan (memakai) nama bapak-bapak mereka; Itulah yang lebih adil pada sisi Allah, dan jika kamu tidak mengetahui bapak-bapak mereka, Maka (panggilah mereka sebagai) saudara-saudaramu seagama dan maula-maulamu. dan tidak ada dosa atasmu terhadap apa yang kamu khilaf padanya, tetapi (yang ada dosanya) apa yang disengaja oleh hatimu. dan adalah Allah Maha Pengampun lagi Maha Penyayang.” (QS. 33:5)
Sabda Nabi saw: “Barangsiapa tidak mengakui anaknya karena hendak mempermalukannya di dunia, Allah swt akan mempermalukannya pada hari kiamat dihadapan banyak saksi mata.” (HR. Ahmad dan Thabrani dari Ibnu Umar)
d. Mendoakannya dengan doa perlindungan; Firman Allah swt:
“Maka tatkala isteri 'Imran melahirkan anaknya, diapun berkata: "Ya Tuhanku, sesunguhnya aku melahirkannya seorang anak perempuan; dan Allah lebih mengetahui apa yang dilahirkannya itu; dan anak laki-laki tidaklah seperti anak perempuan. Sesungguhnya aku telah menamai Dia Maryam dan aku mohon perlindungan untuknya serta anak-anak keturunannya kepada (pemeliharaan) Engkau daripada syaitan yang terkutuk (إني أعيذها بك وذريتهامن الشيطان الرجيم) (QS. 3:36)
Doa nabi Ibrahim untuk anak dan keturunannya: (QS.14:35, 40-41)
“35. dan (ingatlah), ketika Ibrahim berkata: "Ya Tuhanku, Jadikanlah negeri ini (Mekah), negeri yang aman, dan jauhkanlah aku beserta anak cucuku daripada menyembah berhala-berhala.”
“40. Ya Tuhanku, Jadikanlah aku dan anak cucuku orang-orang yang tetap mendirikan shalat, Ya Tuhan Kami, perkenankanlah doaku. 41. Ya Tuhan Kami, beri ampunlah aku dan kedua ibu bapaku dan sekalian orang-orang mukmin pada hari terjadinya hisab (hari kiamat)".
“dan Ibrahim berkata:"Sesungguhnya aku pergi menghadap kepada Tuhanku, dan Dia akan memberi petunjuk kepadaku. Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang Termasuk orang-orang yang saleh. (QS. 37:99-100)
Doa nabi Zakariya as:
“38. di sanalah Zakariya mendoa kepada Tuhannya seraya berkata: "Ya Tuhanku, berilah aku dari sisi Engkau seorang anak yang baik. Sesungguhnya Engkau Maha Pendengar doa". 39 kemudian Malaikat (Jibril) memanggil Zakariya, sedang ia tengah berdiri melakukan shalat di mihrab (katanya): "Sesungguhnya Allah menggembirakan kamu dengan kelahiran (seorang puteramu) Yahya, yang membenarkan kalimat (yang datang)
dari Allah, menjadi ikutan, menahan diri (dari hawa nafsu) dan seorang Nabi Termasuk keturunan orang-orang saleh". (QS.3:38-39)
“89. dan (ingatlah kisah) Zakaria, tatkala ia menyeru Tuhannya: "Ya Tuhanku janganlah Engkau membiarkan aku hidup seorang diri dan Engkaulah waris yang paling Baik. 90. Maka Kami memperkenankan doanya, dan Kami anugerahkan kepada nya Yahya dan Kami jadikan isterinya dapat mengandung. Sesungguhnya mereka adalah orang-orang yang selalu bersegera dalam (mengerjakan) perbuatan-perbuatan yang baik dan mereka berdoa kepada Kami dengan harap dan cemas. dan mereka adalah orang-orang yang khusyu' kepada kami.” (QS.21:89-90)
e. Mengumandangkan adzan;
Ini merupakan upaya merekamkan kalimat tauhid Laa Ilaha Illallah, Muhammadarrasulullah sejak dini. Sebab otak bayi laksana pita kaset yang masih kosong, ia akan terisi oleh suara yang pertama kali tertangkap olehnya. Semoga hal itu menjadi arahan yang lurus bagi sang bayi, yang akan mengendalikan arah hidupnya.
Dari Abu Rafi’, ia berkata: “Aku melihat Rasulullah saw adzan seperti adzan shalat di telinga Al hasan ketika dilahirkan oleh Fathimah.” (HR. Ahmad, VI/9,391,392. Abu Daud no. 5105. At Tirmidzi I/286)
Syaikh al Albany –ahli hadits abad ini- berkata tentang status hadits ini, “Hasan, Insya Allah!” (Irwa’ al Ghalil, IV/400)
Sedangkan hadits tentang iqamah, adalah sebagai berikut:
"Siapa yang kelahiran anak lalu ia mengadzankannya pada telinga kanan dan iqamah pada telinga kiri maka Ummu Shibyan (jin yang suka mengganggu anak kecil, -pent) tidak akan membahayakannya".
(Dikeluarkan oleh Al-Baihaqi dalam Syu'abul Iman (6/390) dan Ibnu Sunni dalam Amalul Yaum wal Lailah (no. 623) dan Al-Haitsami membawakannya dalam Majma' Zawaid (4/59) dan ia berkata : Hadits ini diriwayatkan oleh Abu Ya'la dan dalam sanadnya ada Marwan bin Salim Al-Ghifari , ia matruk (haditsnya ditinggalkan)".
Kami katakan hadits ini diriwayatkan Abu Ya'la dengan nomor (6780).
Berkata Muhaqqiq (peneliti hadits)nya : "Isnadnya rusak dan Yahya bin Al-Ala tertuduh memalsukan hadits". Nah, dari keterangan ini jelaslah bahwa hadits tentang qamat untuk bayi tidak bisa dijadikan landasan untuk mengamalkannya, karena cacatnya yang parah.
f. Mentahnik; Disunahkan memberikan tahnik kepada bayi dengan menggunakan kurma atau sejenisnya, seperti madu dan lain-lain. Dengan cara mengunyah kurma hingga lembut dan halus, lalu dimasukkan ke dalam mulut bayi tersebut. Ini merupakan upaya persiapan agar bayi nantinya mudah untuk merasakan manisnya air susu ibu. Hal ini didasarkan pada sebuah hadits:
Dari Abu Musa al Asy’ary beliau berkata: Dilahirkan bagiku bayi laki-laki, kemudian aku bawa kepada Rasulullah. Lalu Rasulullah menamakan bayi itu Ibrahim dan mentahniknya dengan korma serta mendoakan keberkatan atasnya, lalu menyerahkan kembali
kepadaku. Dan dia (Ibrahim) merupakan anak Abu Musa yang paling besar (sulung).” (HR. Bukhari no. 5467, Muslim III/1690, Ahmad IV/339)
g. Mengaiqahkan, mencukur rambut dan memberi nama; Hal ini didasarkan pada sabda Rasulullah saw;
“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (hewan) pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur rambutnya dan diberikan nama.” (HR. Ahmad V/807 no. 12,17,18, Ibnu Majah no. 3165, At Tirmidzi IV/101, An NAsa’I V/166, dan Abu Daud III/106)
“Setiap bayi tergadai dengan aqiqahnya, disembelih (hewan) pada hari ketujuh dari kelahirannya, dicukur rambutnya dan diberikan nama.” (HR. Ahmad V/807 no. 12,17,18, Ibnu Majah no. 3165, At Tirmidzi IV/101, An NAsa’I V/166, dan Abu Daud III/106)
Dari ‘Amr bin Syu’aib dari ayahnya, dari kakeknya, Rasulullah bersabda: “Barangsiapa diantara kalian yang ingin menyembelih (kambing) karena kelahiran bayi maka hendaklah ia lakukan untuk laki-laki dua kambing yang sama dan untuk perempuan satu kambing.” (Sanadnya Hasan, HR. Abu Dawud (2843), Nasa’i (VII/162-163), Ahmad (2286, 3176) dan Abdur Razaq (IV/330), dan shahihkan oleh Imam al-Hakim (IV/238))
Dari Ibnu Abbas bahwasannya Rasulullah bersabda: “Mengaqiqahi Hasan dan Husain dengan satu kambing dan satu kambing.” (HR Abu Dawud (2841) Ibnu Jarud dalam kitab al-Muntaqa (912) Thabrani (11/316) dengan sanadnya shahih sebagaimana dikatakan oleh Ibnu Daqiqiel ‘Ied)
Abu Buraidah berkata: “Kami pada zaman jahiliyah dahulu, jika lahir seorang bayi laki-laki bagi kami maka disembelih atasnya seekor kambing dan dilumurkan ke kepala bayi itu darah sembelihannya. Namun, ketika Islam datang, kami menyembelih kambing, mencukur rambut bayi, dan melumurinya dengan za’faran (sejenis minyak wangi).” (Riwayat Abu Daud III/107, Baihaqi IX/303, Hakim IV/238)
“Sesungguhnya kalian pada hari kiamat nanti akan dipanggil dengan nama-nama kalian dan nama bapak-bapak kalian, maka perindahlah nama-nama kalian.” (HR. Abu Dawud dan Ibnu Hibban dalam kitab shahihnya dengan para perawi yang tsiqat)
h. Mengkhitankan; Dari Abu Ayyub ra berkata: Rasulullah saw bersabda: “Empat hal termasuk sunnah-sunnah para Rasul: Khitan, memakai wewangian, siwak dan Menikah.” (HR. Tirmidzi dan Ahmad); dari Jabir ra, ia berkata: “Rasulullah saw meng’aqiqahi Hasan dan Husain serta mengkhitankan keduanya pada hari ketujuh.” (HR. Baihaqi)
(bersambung)
Subhanallah Ustadz sungguh bagus Tulisannya...semoga bisa bermanfaat buat diri saya pribadi dan Ustadz..amin
BalasHapus